Khotbah Perak Imamat RD. Servulus Juanda
RD. IGNASIUS LOY SEMANA
PERGI DAN
MENGHASILKAN BUAH
[Yoh
15: 9—17]
KHOTBAH PADA PERAYAAN PERAK IMAMAT
RD. SERVULUS JUANDA
Sabtu, 28 September 2024
PERGI
DAN MENGHASILKAN BUAH
Seorang imam merayakan pesta
Perak (25 tahun) imamatnya. Beberapa orang menggelengkan kepala tanda belum
yakin. Banyak orang berdecak kagum tanda pujian. Semua orang yang mengenal imam
itu menundukkan kepala tanda hormat. Seorang ibu muda bertanya kepada Romo itu,
“Bisa ya Romo, bisa bertahan sampai 25 tahun. Padahal banyak sekali yang
meragukan Romo, termasuk saya juga.” “Boleh aku tahu Romo, kira-kira apa
resepnya sehingga Romo bisa bertahan sampai 25 tahun dalam imamat?” Sambil tersenyum Romo itu menjawab: “Saya
mempunyai dua telinga tetapi saya menggunakan telinga yang ketiga. Saya
mempunyai dua mata tetapi saya menggunakan mata yang ketiga.” Si penanya
semakin penasaran, lalu bertanya lagi: “Apa maksud Romo?” Romo menjelaskan,
“Saya ini diciptakan lengkap dengan dua telinga tetapi saya selalu menggunakan
telinga ketiga, yaitu, Telinga Hati. Saya mempunyai dua mata tetapi saya selalu
menggunakan mata ke tiga, yaitu, Mata Hati.”
Hanya dengan Hati manusia bisa taat dan
setia. Hanya dengan hati manusia bisa bertanggung jawab, bisa mencintai dan
menyayangi, bisa berbelas kasih dan mengampuni. Dengan hati manusia bisa
mengenal diri, sesama, dan Allah Pencipta. Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan
Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal
budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Inilah perintah
pertama dan utama yang harus ditaati oleh semua manusia, apabila ia ingin masuk
surga. Apabila tidak memiliki Hati maka hidup ini gelap, tidak bisa mengenal
masa lalu, masa kini, dan masa depan. Apabila tidak mempunyai hati maka orang
tidak bisa bersyukur atas masa lalu, tidak bisa menghayati masa kini, dan tidak
bisa berharap akan masa depan. Setiap imam harus mempunyai hati. Hati itu
digunakan untuk mengasihi, melayani, berkurban, berbelas kasih, dan mengampuni.
Seorang Amé dé Tuang memberi
nasihat kepada anaknya yang ditahbiskan menjadi imam (Werang, Matawae, 1994). “Anak
Tuang, co’o tara ngancéng tau jadi tuang
ité, maik aku ho’o amé mo, toé baé sembaéng. Omé tau toko aku lé wié, sembaéng gé gaku ga, “Muri,
tau toko aku ga”; omé to’o aku lé gula, sembaéng gaku, “Muri
to’o aku ga”. Toé manga sembaéng gaku latang
hau tau jadi tuang. Landing ho’o bel anak ga, hau jadi tuang. Ca goé tuing gaku
latang hau, “Ome tuké palé pu’u, néka wa’u palé lobo.”
Ketika ditahbiskan menjadi imam 25 tahun
yang lalu, Rm. Selus memilih Moto Imamat, “JANGANLAH TAKUT, AKULAH YANG
MENOLONG ENGKAU (Yesaya 41: 13b). Moto ini memberi banyak informasi tentang
perjalanan hidup seorang Selus Juanda. Moto ini menjadi rangkuman dari seluruh
refleksi hidup seorang Selus selama 15 tahun di Seminari (6 tahun di Seminari
Kecil Kisol + 9 tahun di Seminari Tinggi Ritapiret). Moto ini tetap
dipertahankannya sampai usia 25 tahun perjalanan hidup imamatnya. Artinya, moto
ini telah menjadi motivasi, transformasi, dan aplikasi dari seluruh perjalanan
hidup seorang Rm Selus, baik dalam menempuh pendidikan di Seminari maupun dalam
karya imamatnya hingga saat ini. Moto ini bercerita banyak tentang pengenalan
diri seorang Selus: ia mengenal siapa dirinya, ia mengenal bagaiamana ia
berelasi dengan Tuhan dan sesama, ia mengenal pahit manisnya kehidupan imamat,
ia mengenal sukses gagalnya karya imamatnya. Di atas segalanya, ia sadar bahwa
tanpa campur tangan Tuhan, hidup ini sama sekali tidak berarti.
Dalam diri seorang imam terdapat dua
wilayah luas yang membentuk dirinya. Wilayah pertama adalah wilayah kasat mata,
yaitu wilayah yang dikenal oleh manusia. Wilayah yang kedua adalah wilayah
misterius, yaitu wilayah tersembunyi yang sulit dikenal oleh manusia tetapi
dikenal baik oleh Pencipta.
Dalam wilayah kasat mata,
yang bisa dilihat oleh semua orang, seorang imam adalah manusia biasa, yang
memiliki daur hidup seperti manusia, yaitu lahir, hidup, berkembang, dan mati.
Seorang imam adalah seorang lelaki yang memiliki naluri biologis dan natural
seperti makhluk laki-laki umumnya. Seorang imam memiliki bakat, minat, dan
kemampuan seperti manusia lain. Seorang imam adalah seorang laki-laki normal,
yang tampangnya bisa tampan perkasa, atau kekar seperti batu karang, atau kurus
langsing seperti tiang listrik. Ketika seseorang menjadi imam, semua aspek
natural ini tidak mungkin hilang.
Dalam wilayah misterius,
yang tidak dapat dimengerti oleh manusia, seorang imam tidak boleh kawin dan
dikawinkan (hidup selibat). Seorang imam hidup seorang diri, sendirian, dan
harus mampu hidup mandiri dan bertanggung jawab (kemandirian hidup). Dalam dirinya
seorang imam harus memiliki kemampuan integratif sebagai laki-laki dan
perempuan sekaligus (integritas diri). Seorang imam memiliki keterbatasan dan
kelemahan tetapi tidak boleh menyerah pada kelemahan dan keterbatasan itu
(menyangkal diri dan berkurban). Seorang imam boleh mencintai dan dicintai
tetapi tidak boleh memiliki dan dimiliki. Cinta seorang imam harus inklusif dan
universal untuk semua orang (cinta agape, cinta Yesus). Hal-hal yang tidak
normal ini tidak mudah dipahami oleh banyak orang, dan bisa saja wilayah ini
menjadi pokok kesulitan, pertentangan, dan tantangan dalam kehidupan seorang
imam.
Sebenarnya, seorang imam tidak tahu
persis 100% tentang kehidupan imamatnya. Sama seperti Maria Bunda Yesus. Ketika
Malaikat Tuhan menyapa Maria, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh
Malaikat kepadanya. Pikirannya tidak
mampu mencerna apa yang dikatakan Malaikat kepadanya, tetapi hatinya terbuka
dan menjawab: “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
(Lukas 1: 26—38). Jawaban ini merupakan ungkapan sebuah kepasrahan diri total
kepada kehendak Allah dan tuntunan Roh Kudus. Begitu banyak hal dalam hidupnya
yang tidak terjangkau oleh nalarnya, pikirannya, tetapi keikhlasan, ketaatan,
dan kesetiaanya mendatangkan berkat surgawi dan duniawi kepada umat manusia di
dunia hingga saat ini.
Ketaatan Maria,
Kesetiaannya, dan pengorbanannya merupakan inspirasi dan motivasi bagi seorang
imam dalam menapaki kehidupan imamatnya. Banyak orang yang tersandung dan jatuh
justru karena tidak taat dan tidak setia pada pilihannya. Kesetiaan dan ketaatan
adalah ungkapan dari diri yang rendah hati. Orang yang rendah hati pasti
hidupnya sederhana, tidak banyak menuntut, menggerutu, cemas dan kuatir. Orang
yang rendah hati menaikkan kualitas dirinya tanpa harus merendahkan dan
meremehkan orang lain. Orang yang rendah hati menunjukkan kualitas dirinya
tanpa harus melenyapkan diri orang lain. Orang yang rendah hati menyalakan
lilinnya sendiri tanpa harus mematikan lilin orang lain. Orang yang rendah hati
mendaki ke puncak gunung tanpa harus meruntuhkan gunung. Orang yang rendah hati
mengejar cita-citanya tanpa harus menggusur, menggeser, dan menggasak orang
lain.
Selus adalah seorang imam. Seorang Selus
yang misterius lebih luas daripada Selus yang kasat mata. Namun, biasanya, yang
tidak dikenal manusia itulah yang dikenal dan dipilih Allah (Daud dan Salomo).
Sebagian besar diri Selus tidak dikenal manusia (misteri), tetapi Allah yang
menciptakan Selus pasti mengenal dia dengan sempurna. Karena itu, pilihan Tuhan
terhadap Selus berkaitan erat dengan penciptaan dia oleh Tuhan. Allah mengenal
Selus sejak penciptaan, dan Allah memilih Selus karena diciptakan oleh-Nya, dan
Allah tidak mungkin mengingkari orang pilihan-Nya ini. Karena itu, ketika Selus
menghadapi jalan berliku-liku, penuh onak dan duri, Tuhan berkata, “Janganlah
takut, Akulah yang menolong engkau” (Yesaya 41: 13b). Ketika Selus merasa ragu
dan bimbang, Tuhan berkata, “Selus, ingat, Akulah yang memilih kamu supaya kamu
pergi melayani dan menghasilkan buah (Yohanes 15: 15-17). Ketika Selus
bermalas-malas, bermanja-manja diri, menggerutu, atau lamban dalam pelayanan
pastoralnya, Tuhan berkata, “Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” (Mat 16:24). Ketika Selus tenggelam dalam eforia
kesuksesan, atau tenggelam dalam dukacita kegagalan, Tuhan berkata, “Selus,
ingat, untuk segala sesuatu ada masanya, dan ada waktunya. Ada waktu untuk
lahir dan ada waktu untuk meninggal; ada waktu untuk menangis dan ada waktu
untuk tertawa; ada waktu untuk meratap dan ada waktu untuk menari; ada waktu
untuk mencari dan ada waktu untuk kehilangan; ada waktu untuk berdiam diri dan
ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi dan ada waktu untuk
membenci.” (Pengkhotbah 3: 1—15).
Hiduplah dalam ruang dan waktu yang telah ditetapkan Allah.
Seorang Imam Ibarat Sebatang
Bambu Belah
Sebatang bambu yang indah
tumbuh di halaman rumah seorang petani. Ia tumbuh tinggi menjulang di antara
batang-batang bambu lainnya. Petani pemilik bambu berpikir, “Bambu ini indah,
tinggi, dan besar tetapi tidak berguna.” Lalu petani itu memotong bambu itu,
memangkas semua rantingnya, membelah tubuhnya, dan mengorek-ngorek bagian dalam
tubuhnya. Bambu yang sudah dibelah digunakan untuk menghubungkan sumber air di
pegunungan dengan sawah di dataran. Setelah petani selesai dengan pekerjaannya,
batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumahnya, kini
telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi
dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak, dan penduduk desa mendapat air
minum yang segar dan sehat.
Seorang imam ibarat Bambu yang dipilih,
dipotong, dibelah, dan digunakan untuk menghubungkan Allah dan manusia.
Betapapun besar dan tingginya bambu tetapi tidak berguna apabila tidak
digunakan. Betapapun besar dan tingginya seseorang, tidak berguna apabila Tuhan
tidak memanggilnya untuk berkarya di ladang-Nya. Ketika seorang petani memotong
bambu, membelahnya, mengorek-ngorek tubuhnya, dan menggunakannya untuk
menghubungkan sumber/mata air dengan sawah, maka bambu menjadi benda yang
sangat bermanfaat. Ketika seorang imam menyerahkan dirinya dan berkurban demi
kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, maka seorang imam menjadi orang yang
berguna. Yesus bersabda, “Bukan Kamu
yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yoh 15: 16). Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku,
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (Mat 28: 19—20).
Janganlah takut, Akulah yang menolong Engkau (Yesaya 41: 13b), dan Aku
menyertai engkau senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28: 16-20).
Rm.
Selus, Proficiat. Terima kasih, Anda telah menjadi inspirasi untuk sebuah
kehidupan yang dihayati dalam ketaatan, kesetiaan, dan pengorbanan. Lanjutkan
karya kudusmu ini. “Omé tuké palé pu’u néka wa’u palé lobo!”
Komentar
Posting Komentar