Khotbah Kematian Marsel Harijan Epol

 

KHOTBAH PADA ACARA KELAS MARSEL HARIJAN MUTIARA

Teks: Mazmur 23: 1—6; Matius 28: 1—10.

 Mengawali khotbah ini, saya membacakan sebuah puisi berjudul SETAHUN SUDAH.

                                                                  SETAHUN SUDAH

Setahun sudah

Engkau pergi dari kami

Setahun sudah engkau telah tiada

Setahun sudah kami hidup tanpa kehadiranmu

Namun, engkau tetap tinggal di dalam ingatan kami

Kehadiranmu tetap hangat di dalam perasaan kami

Hari ini

Kutitipkan rindu

Kupahatkan kenangan indah

Kulantunkan syair kutembangkan nada

Kurangkaikan doa hanya untukmu

Engkau telah menjadi segala-galanya dalam hidup kami

Kenangan manis bersamamu tak akan pernah redup

dalam hidup dan keluarga kita

Namun dengan ikhlas hati

Kami membiarkan engkau pergi jauh

Menembusi cakrawala menjumpai Penciptamu

dan dengan sejuta harapan kami berdoa

Semoga dikau menikmati damai dan bahagia abadi

di rumah-Nya yang kudus

H  H   H  H   H  H   H  H

 Ketika saya diminta untuk berkotbah pada acara Misa ini, saya langsung bertanya diri, kira-kira kata-kata apa yang bisa saya sampaikan untuk meneguhkan dan menguatkan keluarga yang masih berduka. Saya tahu persis, keluarga ini masih berdukacita atas kematian kekasih mereka Marcelus Harijan Mutiara. Saya berpikir, sebuah kotbah bukan untuk orang mati; kotbah ini bukan untuk Marcel yang sudah meninggal, tetapi untuk kita yang masih hidup. Kehidupan dan kematian Marcel telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yaitu: bahwa hidup itu harus dihargai, dihormati, dan diisi dengan kebaikan dan kasih sayang, agar kematian tidak disesali. Sesungguhnya, bukan kematian yang ditangisi dan disesali, melainkan kehidupan yang harus kita renungkan, kita hormati, kita hargai, dan kita sayangi.

Ketika seseorang mati banyak orang menangisi dia, yang mungkin selama hidup tidak pernah tertawa dan menangis bersama dia. Ada banyak hal yang menjadi utang budi selama hidup: tidak saling menyayangi dan menolong, tidak saling memperhatikan, tidak saling memaafkan, sehingga kita akan merasa kehilangan dan menyesal ketika kematian mendadak datang menjemput. Kesadaran dan penyesalan memang ada, tetapi itu selalu datang terlambat di pikiran dan hati kita. Ketika seseorang tidak ada lagi barulah kita sadar akan manfaatnya hidup bersama dengan rukun dan damai. Tetapi, hidup ini tidak bisa diulang; kita tidak bisa berjalan pulang ke belakang untuk membayar utang budi seseorang, untuk mengucapkan terima kasih dan memohon maaf. Inilah sebuah penyesalan dan rasa kehilangan yang kita tangisi di depan peti jenasah atau di samping makam.

Sebelum Yesus ditangkap, dibunuh, dan mati, Ia berkali-kali mengajar para murid-Nya, agar mereka selalu hati-hati dan waspada, agar tidak kecewa, menyesal, dan takut apabila Ia mati. Tetapi, para murid tidak prduli dengan pengajaran Yesus. Mereka tetap sibuk dengan pikirannya sendiri, dengan rencananya sendiri, dengan ambisinya sendiri (Markus 9: 30—37). Akhirnya, mereka sangat kaget, takut, kecewa ketika Yesus mati dibunuh. Sesudah Yesus mati barulah mereka ingat apa yang Yesus katakan dan lakukan, tetapi sayangnya ingatan itu sudah terlambat. Muncullah penyesalan, kekecewaan, dan ketakutan.

Saya mungkin salah satu dari murid Yesus itu, yang lambat sadar dan menyesal ketika orang yang saya sayangi dan cintai mati mendadak. Tahun 2022 yang lalu saya mengalami kematian dua orang yang sangat saya kenal dan sangat saya kagumi dan sayangi. Mereka itu adalah koa saya Marcelus Harijan Mutiara (Marcel, 4 Maret 2022), dan kesa saya Petrus Jehala (kae Pit, 4 September 2022). Kematian mereka sungguh sangat mengejutkan saya, sangat disesalkan, dan mengecewakan. Saya mengenal Marcel: kami pernah ada bersama di Jakarta; ia pernah membantu saya; ia banyak curhat kepada saya tentang masalah yang dialami dalam keluarganya; dan ia sangat menyayangi saya. Tetapi, ketika dia meminta bantuan saya untuk menyelesaikan masalah miskomunikasi dalam keluarga mereka, saya tidak cepat tanggap melakukannya. Ketika dia sakit mendadak di Surabaya, saya tidak sempat menjenguknya. Ketika dia mati, saya kaget dan menyesal. Perasaan menyesal itulah yang membuat saya berduka dan merasa sangat kehilangan. Saya teringat pesan Kitab Pengkhotbah (3: 1—15): Ingatlah! Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktunya untuk lahir, ada waktunya untuk mati. Ada waktunya untuk tertawa, ada waktunya untuk menangis. Ada waktunya untuk sukses, ada waktunya untuk gagal. Saya juga diingatkan oleh almarhum Philipus Manti dengan lagunya dalam Dere Serani berjudul: Doingkoe o Mose de (DS 44). Philipus Manti bersyair: Doingkoe ga! Doingkoe o mose de. O e mose dokong lino ho’o. Doingkoe mose de! Ai makit le mose lewe, ce’e ce’e Dewa mese. Doingkoe o mose de!

Baik kitab Pengkhotbah, maupun Philipus Manti, keduanya disatukan oleh Marsel Harijan Mutiara dalam pesan kematiannya untuk keluarga ini. Marsel mengatakan begini: ada waktunya kamu ada bersama saya, ada waktunya kamu kehilangan saya. Ada waktunya kamu menyayangi saya, ada waktunya kamu melawan dan menolak saya. Ada waktunya kamu meminta bantuan saya, ada waktunya kamu tidak peduli dengan saya. Ada waktunya saya membantu orang dengan harta yang saya miliki, ada waktunya harta yang saya miliki tidak bisa membantu menyelamatkan nyawa saya dari sakit dan kematian. Kamu semua, ingatlah lagu ini sebelum terlambat: Ai makit le mose lewe ce’e ce’e dewa mese, doingkoe o mose me.

Karena itu, daripada kamu semua menyesal kemudian, sebaiknya sekarang juga: jagalah dirimu, hiduplah dalam kasih, jagalah persatuan dalam keluarga, jangan menyimpan dengki dan benci di hatimu, hendaklah saling mengampuni dan memaafkan, hargailah hak dan privasi setiap orang. Cintamu harus ditumbuhkembangkan dalam kehidupan bersama, bukan dalam kematian. Maafmu disampaikan dalam kehidupan bersama, bukan saat kematian di peti jenasah atau liang lahat. Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan tangisan, kebencian, dan dengki. Hidup kita yang singkat ini harus diisi dengan perbuatan baik, dengan kasih sayang, dengan saling menolong, dan saling memaafkan dan mengampuni apabila berbuat salah. Di mana ada kasih sayang di sana ada pengampunan. Di mana ada pengampunan di sana ada kedamaian. Di mana ada kedamaian di sana ada kebahagiaan. Kasih sayang dan kebahagiaan adalah harta paling indah, paling mulia, paling berharga, dan paling abadi; kita bisa menyimpannya selama hidup di dunia, dan kita masih bisa membawanya ke dunia akhirat. Jagalah kasih sayang ini dalam hidupmu, dalam keluargamu hari ini dan sepanjang hayat dikandung badan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khotbah Pesta Perak Imamat RD. Emil Jehadus

Khotbah Perak Imamat RD. Servulus Juanda