Khotbah Pesta Perak Imamat RD. Emil Jehadus
RD. IGNASIUS LOY SEMANA
AKULAH JALAN,
KEBENARAN, DAN HIDUP
[Yoh 14: 6]
IMAM KATOLIK ADALAH
JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP BAGI TUHAN DAN BAGI MANUSIA
KHOTBAH PADA PERAYAAN
PERAK IMAMAT
RD. EMILIANUS JEHADUS
PAROKI WAENAKENG, KEVIKEPAN WAENAKENG,
KEUSKUPAN LABUAN BAJO
JUNI 2025
IMAMAT ADALAH JALAN,
KEBENARAN, DAN HIDUP BAGI TUHAN DAN BAGI MANUSIA
Pengantar
Khotbah ini
mengungkapkan hasil permenungan seorang imam tentang imam dan imamat yang
dihayati seorang Imam Katolik. Khotbah ini disiapkan dan dibawakan oleh seorang
Imam Katolik, seorang Imam senior Keuskupan Ruteng dan Labuan Bajo, namanya Rm.
Ignasius Loy Semana, Pr. Pokok dan tokoh yang dienungkan dan dikhotbahkan
adalah imamat yang dihayati selama 25 tahun oleh seorang Imam Katolik Keuskupan
Ruteng dan Labuan Bajo, namanya Rm. Emilianus Jehadus, Pr. Karena ini adalah
sebuah khotbah, maka tidak ada sesi diskusi dan tanya jawab. Apabila tidak
memahami khotbah ini, silakan bertanya kepada diri sendiri, dan jawablah
sendiri-sendiri pula. Dalam perayaan ini, hadir pula uskup Keuskupan Labuan
Bajo dan Uskup Keuskupan Ruteng, karena itu, di awal khotbah ini, saya harus
meminta izin dan restu dari kedua bapak Uskup ini supaya saya bisa berkhotbah
dengan aman dan nyaman di bawah naungan Roh Kudus.
I. Imamat dan Keluarga: Tidak Ada Imam Tanpa Basis
Keluarga
Namanya EMILIANUS
JEHADUS. Sesungguhnya, Emilianus Jehadus adalah pemuda harapan dan andalan
keluarga pasangan bapa Thomas Jehali (alm) dan mama Magdalena Hanur. Namun,
Jehadus ini “lempok” dari bapa
mamanya, dan dari keluarganya waktu itu, dan berjalan menuju Seminari Kisol.
Karena itu, khotbah ini saya beri judul, “EMIL
JEHADUS ATA LEMPOK”. Lempok dalam
bahasa Tiwu Roa, Wae Tiong (kampung asal anak rona/ineame Rm. Emil), berarti terlepas dari ikatan. Saya berani
memberi label “Ata Lempok” kepada Rm.
Emil karena, dalam permenungan saya tentang perjalanan hidup, panggilan,
karier, dan pelayanan pastoral Emil selama 25 tahun sebagai imam praja
Keuskupan Ruteng dan Labuan Bajo, penuh dengan kejadian-kejadian “lempok”.
Emil adalah anak sulung
laki-laki tampan perkasa. Anak gadis Tiwu Roa waktu itu menanti pinangan dari
keluarga Emilianus. Martabat dan pamor keluarga bapak Thomas Jehali dan mama
Magdalena Hanur, harus dinaikkan oleh seorang Emilianus. Adat dan budaya keluarga
dan kampung harus diwariskan melalui keturunan Emilianus. Namun, Emilianus “lempok” dari semua kegagahan hidup ini.
Demi Yesus yang menyebut diri-Nya jalan, kebenaran, dan hidup, Emilianus rela
melepaskan semua keindahan hidup duniawi ini.
Rm. Emil pernah
bercerita, dalam sebuah mimpi, ia bertemu dengan seorang setengah baya. Orang
itu tidak lebih tampan dari Emilianus tetapi setiap kali bertemu dengan
Emilianus, orang itu selalu menatap Emilianus dengan tatapan tajam dan dalam.
Sekali waktu orang itu berkata kepada Emilianus: “Emilianus, Aku adalah Jalan,
dan Kebenaran, dan Hidup.” Nah, Emilianus langsung tertarik dengan orang itu
dan kata-katanya. Orang itu dan kata-katanya mendorong Emil harus “lempok” dari masa lalunya, dari
keluarganya, dari kampungnya, mengejar orang itu, mencari tahu di mana orang
itu tinggal, dan mencari tahu apa maksud perkataan-Nya. Kemudian, ketika Emil
sudah tahu membaca, ia membaca Kitab Suci, dan dalam Kitab Suci Injil Yohanes
14: 6, ia menemukan perkataan ini: Akulah
Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Kata-kata itu diucapkan oleh seseorang yang
dalam Kitab Suci disapa dengan panggilan YESUS. Emilianus tercenung dan
menerawang masa lalu, dan menemukan bahwa Yesus ini adalah orang yang
dijumpainya dalam mimpi ketika dia masih anak-anak dan remaja. Emilianus
memegang erat-erat kata-kata ini, menyimpan dalam hati, memikirkan dalam
kepala, dan mencari jawaban dalam kehidupannya setiap hari. Sejak saat itu, ia
menjadikan kata-kata ini sebagai moto hidupnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan
hidup.” (Yoh 14: 6).
Perjalanan hidup seorang
seminaris dan seorang imam tidak bisa terlepas dari hakikat perjalanan hidup
dan kehidupan sebuah keluarga. Seorang imam berasal dari keluarga, hidup dan
berkembang dalam keluarga, dan keluarga merupakan landasan fundamental yang
menentukan karakter dan kualitas hidup seorang imam. Dalam gaya bahasa
metaforis orang Lembor, keluarga ibarat Ndutuk
(ndotuk = patok untuk mengikat
kerbau), imam adalah Kaba (kerbau). Ndutuk dan Kaba dihubungkan dan terikat dengan Wase Kaba (seutas tali yang mengikat kerbau pada Ndutuk). Antara Ndutuk dan Kaba terjalin
hubungan sangat erat, terkontrol, dan fundamental. Hubungan itu dikontrol oleh
seutas tali (wase Kaba). Seekor
kerbau bisa bergerak ke sana kemari sesuai dengan panjang pendeknya tali yang
mengikatnya. Kerbau tidak bisa melepaskan Ndutuk
karena Ndutuk adalah pusat dan sumber
kehidupannya. Apabila kerbau melepaskan ndutuk atau terlepas dari ndutuk, itu namanya lempok: kaba lempok, lempok kaba. Keluarga ibarat Ndutuk; Imam ibarat Kaba. Keluarga menjadi pokok dan sumber hidup dan benih panggilan
seorang imam. Kehidupan dan panggilan hidup seorang imam tidak bisa lepas bebas
dari keluarga. Banyak keluarga yang ingin anaknya masuk seminari dan menjadi
imam tetapi sedikit sekali yang dipanggil. Keluarga yang harmonis, humanis dan
religius merupakan cikal bakal bertumbuh dan berkembangnya benih panggilan
seorang imam.
II. Imamat dan Komunitas: Berjalan Besama dalam Iman,
Harap dan Kasih
“Akulah Jalan,
Kebenaran, dan Hidup.” (Yohanes 14: 6). Mengapa Emilianus memilih kata-kata ini
sebagai moto tahbisannya 25 tahun yang lalu? Alasannya, karena kata-kata ini
yang diucapkan oleh Yesus sendiri, bagi Emilianus, memiliki daya dorong yang
sangat mistis-misterius, dan memiliki daya tarik yang sangat magnetis dalam
kehidupannya. Daya dorong dan daya tarik ini susah dilukiskan dengan logika dan
rasio manusia, karena daya-daya ini merupakan bagian integral dari eksistensi
dan spiritualitas panggilan hidup imamat
seorang imam. Inilah misteri kehidupan seorang imam katolik. Kehidupan seorang
imam Katolik adalah suatu panggilan dan pilihan misterius, yang tidak semua
orang memahahminya, bahkan imam itu sendiri juga belum tentu memahami panggilan
ini secara utuh. Seorang imam yang rendah hati hanya bisa berpasrah diri pada
panggilan suci ini, sama seperti Bunda Maria, yang tidak mengerti panggilan
Malaikat tetapi dengan rendah hati menjawab, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah
padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1: 38).
Mengapa Emilianus
bertahan dengan moto ini sampai masa 25 tahun imamatnya? Alasannya, karena moto
ini bagi Emilianus sungguh-sungguh manjur dan bermutu. Ke mana pun Emil pergi,
di mana pun dia hidup dan berkarya; hidupnya senang atau susah, sukses atau gagal;
dalam untung dan malang, moto ini selalu mendorong Emilianus untuk menghasilkan
buah, kreatif mencari solusi dalam setiap hambatan, bertahan dalam setiap
kesulitan dan tantangan, berharap dalam setiap ketidakpastian, penghiburan
dalam setiap dukacita, dorongan untuk berbuat kasih, dan kekuatan untuk
mengampuni. [Dulu, Emil itu orang yang “hati pendek” dan “tukang pukul”
(kesaksian teman kelas di Seminari), tetapi sekarang dia peramah, sabar, murah
hati dan menjadi pendoa (kesaksian kami rekan kerjanya di Unika Santu Paulus
Ruteng). Emilianus tamatan Filsafat Ledalero dengan gelar S.S/S.Fil., tetapi
berani “lempok” mengajar Matematika
di SMP-SMA [Santa Familia Waenakeng, Santu Klaus Kuwu dan Fransiskus Saverius
Ruteng]. Keberanian ini telah menghantar Emilianus untuk studi lanjutan menjadi
sarjana Matematika (S.Pd), S2 Pendidikan Matematika (M.Pd.), menjadi Dosen dan
Ketua Prodi Pendidikan Matematika di STKIP-UNIKA Santu Paulus Ruteng. Yang
paling eksistensial dan mirakel dalam kehidupan Emilianus adalah pengalaman
sakitnya; ia pernah sakit berat dan sudah dinyatakan sulit disembuhkan tetapi
mukjizat penyembuhan terjadi padanya melalui “Lia Acu”. Yesus adalah jalan,
kebenaran, dan hidup telah menyembuhkan Emilianus melalui Lia Acu.]
Inilah rentetan
pengalaman yang terjadi pada seorang Emilianus “Ata Lempok.” Emilianus berani “lempok”
di masa lalu, maka kini dia menjadi orang bebas, orang merdeka, dan orang
terberkati. Ia telah menemukan jalan, kebenaran, dan hidup; ia telah mengikuti
jalan, kebenaran, dan hidup; ia telah menjadi jalan, kebenaran, dan hidup bagi
banyak orang.
Emilianus menjadi imam
karena dukungan banyak orang yang dijumpai dan berjumpa dengannya dalam
komunitas-komunitas di mana ia hidup dan berkarya. Rekan seminaris, para
pendidik, dan para donatur sangat berperan penting dalam membentuk karakter
seorang imam. Rekan-rekan imam dan umat juga turut serta memengaruhi gaya hidup
seorang imam. Baik atau buruk kehidupan komunitas sangat berdampak pada
kehidupan dan pelayanan seorang imam. Unio Keusupan Ruteng dan Labuan Bajo
telah banyak berkontribusi menyuburkan dan mengembangkan kehidupan imamat Rm.
Emilianus. Komunitas Dosen Imam (KDI) Unika Santu Paulus Ruteng cukup besar
andilnya dalam menggembirakan dan menyukseskan karier akademis Rm. Emilianus di
Unika Santu Paulus Ruteng. [Rm. Emilianus memiliki ijazah S2 Pendidikan
Matematika, dengan jabatan akademik Lektor, dan sudah eligible menuju Lektor Kepala].
Seorang imam bisa hidup
dan berkembang secara utuh dalam iman, harap, dan kasih hanya melalui atmosfir
kehidupan bersama yang harmonis, humanis, dan religius di dalam komunitas.
Karena itu, seorang imam harus menghargai dan menghormati kehidupan komunitas,
dan sebuah komunitas harus mengakui, menghormati, dan mendukung para imam.
III. Imamat dan Gereja: Imam untuk Gereja. Gereja harus
menghargai Imamnya.
Bagaimana Emilianus
menghayati moto tahbisannya? Awalnya, Emilianus mendengarkan Sabda Tuhan.
Emilianus mencari dan menemukan sumber sabda ini. Emilianus berusaha untuk
memahami dan memaknai sabda ini. Emilianus berusaha menghayati sabda ini dalam
hidup dan karya pelayanannya. Akhirnya, sesudah 25 tahun dalam kehidupan
imamat, Emilianus berani mengucapkan sabda ini bagi dirinya, “Aku telah
menemukan Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Aku telah mengikuti Jalan, Kebenaran,
dan Hidup. Aku telah menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Emilianus telah
menunjukkan Jalan, Kebenaran, dan Hidup bagi kemuliaan Allah dan keselamatan
manusia.
Kadang-kadang seorang
imam lupa basuh muka, suka memakai baju kaus kumal, memakai sandal jepit yang
kotor, dan mengenakan celana jeans yang hampir tidak pernah diseterika, namun,
ketika ia berdiri di Altar untuk merayakan Ekaristi, ia adalah representasi
dari Yesus Kristus, yang membawa Tubuh dan Darah Kristus untuk menyelamatkan
jiwa-jiwa. Akuilah dia, hormatilah dia, dan hargailah dia, karena dia adalah
imam Tuhan yang ditahbiskan menjadi imam untuk menyalurkan rahmat dan
keselamatan kepada umat manusia yang berdosa. Seorang imam ditahbiskan oleh
Gereja, hidup dari Gereja, dan berkarya untuk Gereja. Karena itu, Gereja
seharusnya menghargai dan menghormati para imamnya, baik dalam suka dan sukses,
maupun dalam duka dan kegagalan. Apabila seorang imam pernah mengalami kritikan
keras terhadap dirinya, mendengar caci maki dari umat dan masyarakat, merasakan
fitnah, hoaks, dan gossip tentang kehidupan pribadinya, bersabarlah terhadap
mereka, ampunilah mereka, dan berdoalah untuk mereka, karena orang-orang seperti
itu adalah kelompok jiwa-jiwa yang tersesat dan perlu diselamatkan. Namun,
seorang imam perlu selalu refleksi diri dan evaluasi diri terus menerus sebagai
bagian dari sebuah proses untuk menguduskan diri dalam kebenaran, agar bisa
menjadi jalan, kebenaran, dan hidup bagi Tuhan dan bagi manusia.
IV. Pesan-Pesan Imamat:Jadilah Jalan, Kebenaran, dan
Hidup
Apa yang diajarkan
kepada kita dari kehidupan seorang imam, khususnya imam Allah Rm. Emilianus
Jehadus? Imamat itu sebuah misteri Allah karena itu tidak perlu terlalu banyak
didiskusikan oleh manusia. Imamat itu mahal, tidak gampang diambil dan
digunakan, karena itu imamat itu jangan diremehkan. Seorang imam bukanlah
seorang malaikat karena itu janganlah dia disembah seperti malaikat. Seorang
imam bukanlah orang suci tetapi seorang imam dipanggil untuk menjadi suci
melalui karya pelayanan suci, melalui pelayanan cinta kasih dan pengampunan,
karena itu seorang imam harus terus menerus berbelas kasih dan bertobat. Kita
keliru apabila kita mengklaim diri bisa menjadi imam karena kita suci. Kita
keliru apabila kita menganggap diri suci karena kita imam. Menjadi imam adalah
sebuah panggilan untuk menjadi suci. Menjadi imam adalah sebuah perjalanan
tobat. Pertobatan adalah proses atau jalan menuju kesucian.
Setiap orang Kristen
seharusnya hidup untuk mengasihi, melayani, dan mengampuni. Mengasihi dan
mengampuni merupakan keharusan bagi orang Kristen. Ciri khas dan panggilan suci
orang Kristen adalah mengasihi, melayani, dan mengampuni. Apabila kita tidak mampu
mengasihi dan mengampuni, janganlah menyebut diri orang Kristen, pengikut
Kristus, imam Kristus. Orang yang hidup dalam atmosfir kasih sayang dan
pengampunan akan mengalami kehidupan yang damai, tenteram, dan bahagia.
Rm. Emilianus Jehadus,
engkau adalah “Ata Lempok”, imam lempok, tetapi dengan lempok-mu itu engkau menemukan jalan,
kebenaran, dan hidup. Lempok-mu telah
memperkenalkan jalan, kebenaran, dan hidup bagi banyak orang. Engkau sendiri
telah menjadi jalan, kebenaran, dan hidup bagi banyak orang. Semoga karena lempok-mu engkau menemukan kelimpahan
berkat surgawi dan duniawi yang dibutuhkan dalam hidupmu pribadi dan dalam
penghayatan imamatmu selanjutnya. Kami rekan-rekan imammu selalu mendukungmu.
Kami umat Allah selalu mendoakanmu. Kami keluarga sangat mencintaimu dan selalu
mendoakanmu. Kita selalu saling mendukung dan mendoakan. Kita adalah jalan,
kebenaran, dan hidup bagi Tuhan, dan bagi sesama. Proficiat! Lanjutkan
karya-karya kudusmu sampai hembusan nafas terakhir. Tuhan memberkati kita.
Komentar
Posting Komentar